Soal Pilkada DKI, Ketum PBNU: Siapa yang Menang Harus Kita Terima, Tak Usah Caci Maki

Alreinamedia.com, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj minta warga DKI untuk menjaga kerukunan selama Pilgub DKI. Dia mengiAMau siapapun yang menang dalam Pilgub DKI harus dihargai.

“Nggak usah bertengkar, siapa yang menang, itu yang kita hormati. Harus kita terima, tidak usah caci maki,” kata KH Said Aqil di Kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat (7/4).

Dia menilai Pilkada harus dilaksanakan dengan santun dan santai. Said mengingatkan masing-masing warga bisa menjaga persaudaraan.

“Tunjukkan dengan senyum, santai, mari jadikan pilkada pesta demokrasi hal bersejarah bagi kita semua. Sukseskan dengan damai santun. Nggak usah bertengkar, siapa yang menang itu yang kita hormati. Harus kita terima, tidak usah caci maki,” kata KH Said Aqil.

Said berpendapat jika beda pilihan pasangan calon gubernur DKI tak boleh bermusuhan. Kecuali pelanggar hukum yang harus menjadi musuh bersama.

“Pelanggar hukum yang harus menjadi musuh bersama. Tidak boleh bermusuhan karena beda agama, tidak boleh ada permusuhan kecuali pada yang melanggar hukum,” jelasnya.

Lebih jauh ia menyebutkan, perbedaan pilihan calon tak perlu meAMuat renggang hubungan.
“Yang senang Ahok, silakan pilih Ahok, yang enggak seneng pilih yang lainnya. Suka Anies pilih Anies, engga senang pilih yang lain. Enggak usah demo,” tegasnya.

Baca Juga :  Dua Jabatan Komandan KRI Di Jajaran Satkat Koarmada I Diserahterimakan

Said Aqil meminta agar tidak ada permusuhan dan kebencian dalam Pilkada DKI. Masyarakat harus cerdas dan menjaga persatuan. “Tidak boleh mengganggap musuh orang lain karena beda agama, suku, warna kulit, parpol, beda pilihan gubernur. Silakan beda,” ujar Said.

Dia berharap pemungutan suara pada 19 April berjalan lancar dan damai. Kesatuan dan persatuan dipesankan Said Aqil harus tetap dijaga.

“Silakan beda tapi tetap akur rukun damai. Indonesia bukan negara agama, tapi bukan Indonesia kalau tidak ada Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Khonghucu bukan Indonesia namanya,” tutur Said Aqil.

Tiru akhlak Nabi Muhammad
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan setiap pemimpin harus meniru akhlak Nabi Muhammad SAW. Seorang pemimpin harus adil terhadap warganya meski beda agama, partai, politik dan suku.

“Seperti Rasul, ketika memimpin kota Yatrib, penduduknya ada muslim dan non muslim. muslimnya ada pribumi, ada pendatang, muhajirin ansor. Semua diberlakukan oleh Rasul dengan sama di mata hukum sama, diberi pelayanan fasilitas sama, hak dan kewajiban sama. Enggak pandang agama dan sukunya apa,” jelasnya.

Baca Juga :  Minyak AS Anjlok di Bawah Nol Dolar AS

Dia pun kemudian menyinggung pelaksanaan sejumlah Pilkada yang sampai ‘merebut’ masjid sebagai panggung politik. Secara bercanda, Said mengatakan bahwa senakal-nakalnya Nahdliyin paling hanya sampai merebut sandal di masjid.

NU, kata Said, tak pernah ‘merebut’ masjid. Itu berbeda dengan sekelompok orang yang menggunakan masjid sebagai panggung politik padahal mereka tak meAMangunnya.

“Enggak pernah bangun masjid tapi rebut masjid, kalau NU paling nakal nyolong sendal. Orang wahabi nyolong masjid bukan sendalnya. Budaya tahlilan, syukuran, shalawat sudah benar itu,” ujar dia.

Said mengingatkan agar, siapapun jika ingin aksi jangan merebut Masjid. Apalagi bagi mereka yang tak pernah meAMangun tempat ibadah.

Dia mencontohkan, dalam unjuk rasa terkait kasus dugaan penistaan agama calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Jangan salat Jumat di Monas, salat Jumat ya di Masjid. Salat Jumat di Monas tidak sah, Jumatan di Masjid saja. Lawan Ahok saja sampai 3 juta orang, hebat benar Ahok ya,” kata Said Aqil.(AM/detik)

Pos terkait

ALREINAMEDIA TV

BERITA DAERAH TERBARU