Erick Thohir Akui Kondisi Garuda Indonesia Sedang Terpuruk

Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi nasional dan worldwide, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengembangkan inovasi. Itu menjadi salah satu cara untuk bertransformasi ke arah yang lebih baik. Perusahaan-perusahaan pelat merah harus bisa menjalankan operasional secara efisien agar mampu bertahan.

Menteri BUMN Erick Thohir buka suara terkait dengan kondisi dua BUMN yang sedang jadi sorotan. Yakni, PT Garuda Indonesia dan PT Telkom Indonesia. Kemarin (2/6) dia mengakui bahwa bisnis maskapai nasional itu terpuruk karena pembatasan mobilitas manusia.

“Industri penerbangan terdampak sangat parah karena penurunan jumlah penumpang. Aktivitas bandara hanya 15 sampai 32 persen dari kapasitas,” katanya.

Namun, kondisi itu tidak hanya dialami Garuda. Maskapai-maskapai swasta juga kepayahan bertahan. Sampai kuartal III tahun lalu, Garuda mencatatkan kerugian sebesar USD 1,07 miliar (sekitar Rp 15,27 triliun).

Baca Juga :  Bantu Perangi Covid-19, Pemerintah Bebaskan Bea Masuk dan Pajak Impor

Bersamaan dengan itu, Peter Gontha meminta perusahaan menghentikan pembayaran honorarium bulanan para komisaris. Pria 73 tahun itu tercatat sebagai salah seorang anggota dewan komisaris Garuda. Secara tertulis, dia menyatakan bahwa usul tersebut menjadi cara untuk meringankan beban keuangan.

“Mulai Mei 2021, memberhentikan pembayaran honorarium bulanan kami sampai rapat pemegang saham mendatang,” ungkapnya.

Peter merasa perlu menyampaikan permohonan itu secara terbuka karena Garuda adalah perusahaan milik publik. Dalam suratnya, dia juga menyampaikan bahwa keuangan kritis karena manajemen tidak menghemat biaya operasional atau berusaha bernegosiasi dengan lessor.

Kemarin Erick menyambut baik usul Peter. “Saya rasa yang diusulkan Pak Peter sangat bagus. Bahkan, saya ingin usulkan supaya kalau bisa komisaris Garuda Indonesia dua atau tiga saja,” jelasnya.

Baca Juga :  1 Januari 2020, Harga Rokok Pasti Naik 35%

Saat ini ada lima orang komisaris yang duduk pada dewan komisaris Garuda. Langkah efisiensi tersebut, lanjut Erick, selaras dengan tawaran pensiun dini kepada karyawan.

“Jangan misalnya ada pensiun dini, tapi jumlah komisarisnya enggak dikurangi. Nah, nanti kami kurangi, kecilkan jumlahnya. Itu bagian dari efisiensi. Jadi, benar-benar mencerminkan upaya dari komisaris dan direksi,” bebernya.

Sementara itu, terkait transformasi Telkom yang menempatkan gitaris Slank Abdi Negara Nurdin sebagai komisaris, Erick punya tanggapan positif. Dia menyatakan bahwa industri hiburan dalam negeri sedang bersaing dengan layanan streaming dari luar negeri. Misalnya, Netflix dan Disney In addition to.

“Dari situ, Telkom dan Telkomsel harus bisa membangun konten lokal. Yang namanya Telkom dan Telkomsel harus jadi aggregator konten lokal,” tegasnya.

ALREINAMEDIA TV