Pemerintah Siapkan Energi Terbarukan untuk Industri

  • Whatsapp

Jakarta, ALREINAMEDIA.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan konsep Renewable Energy Based Industry (Rebid) atau Energi Terbarukan Berbasis Industri, khususnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berkapasitas besar untuk pasar industri.

Konsep Rebid merupakan bentuk keseriusan pemerintah mempercepat pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT), terutama berbasis tenaga air sekaligus memenuhi kebutuhan energi listrik.

Read More

“Konsep ini akan mengintegrasikan mulai dari sisi suplai sampai penggunaan energinya. Ini akan mengakselerasi pemanfaatan pembangkit hidro skala besar untuk diserap di pasar industri besar, seperti PLTA Kayan (Kalimantan),” kata Direktur Aneka EBT Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Harrisn dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (26/9/2020)

Harris menuturkan, PLTA maupun pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) akan terus dikembangkan sesuai dengan regulasi.

“Kami harapkan bisa dikembangkan melalui regulasi yang ada saat ini. Kami akan mengakomodir semua (masukan pengembang). Khususnya (kapasitas) yang di bawah atau sampai dengan 5 megawatt (MW), implementasinya dilakukan melalui penunjukan langsung dan feed in tariff,” ungkapnya.

Baca Juga :  Vaksinasi Covid-19 Tahap II, Bupati Asahan Tinjau di Gedung Serbaguna Kisaran

Apabila kapasitas pembangkit di atas 5 MW, penetapan harga jual beli akan dilakukan dengan skema antarbisnis (business to business/B to B). “Konsep tersebut sudah ada dalam draf peraturan presiden,” kata Harris.

Saat ini, Kementerian ESDM juga tengah bekerja sama pemanfaatan waduk eksisting dan baru bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan potensi kapasitas sebesar 302 MW.

Sebaran ada di eksisting Kalimantan Timur yakni Waduk Arsari/Sepaku 20 MW, Waduk Lembakan 20 MW, dan Waduk Wamboja 18 MW; eksisting Papua yaitu PLTM Kalibumi 6,3 MW; Kalimantan Selatan di PLTA Kusan 65 MW; Sulawesi Tenggara yakni PLTA Konawe/Bendungan Pelosika 10 MW; dan Jambi adalah PLTA Merangin 90-228 MW.

Khusus di Kalimantan Utara, pemerintah tengah melakukan penyelerasan (cascading) 5 PLTA dengan total kapasitas 6.000-9.000 MW dan PLTA Mentarang berkapasitas 1.375 MW. Keduanya diperuntukkan untuk mendukung kegiatan industri di Kalimantan Timur.

Menurut Harris, besarnya potensi air di Papua tengah dilirik oleh Fortescue Metals Group (FMG) Australia yang berencana investasi PLTA 20 gigawatt (GW) beserta kawasan industri di Memberamo, Urumuka, Idenberg, Balein, dan Derewo.

Baca Juga :  Terpilih Sebagai Bupati Dan Wakil Bupati Kabupaten Asahan Resmi Dilantik

“Kami berharap mereka bisa membawa industrinya sehingga membawa benefit untuk Indonesia lebih tinggi lagi,” harapnya.

Di samping itu, menurut Harris, Kementerian ESDM terus mengoptimalkan proyek-proyek yang telah masuk daftar penyedia terseleksi (DPT) PT PLN (Persero), namun terhenti dan akan dikembangkan dengan skema pengembang swasta (independent power producer/IPP) murni atau mandatori anak perusahaan PLN dengan potensi 1.000 hingga 5.425 MW.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, mengatakan pemerintah fokus dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT), untuk mengejar target bauran energi 23 persen pada 2025.

Sejumlah sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, yaitu seperti energi surya.

Menurut Arifin, saat ini pemerintah tengah menundang para investor panel untuk bisa menanamkan modal ke Indonesia karena potensinya yang masih besar.

Kapasitas energi surya di Indonesia bisa sampai 200 gigawatt (GW).

“Ini menarik untuk dikembangkan ditengah kampanye energi bersih,” kata Arifin dalam keterangannya. (Foto: Kementerian ESDM)

ALREINAMEDIA TV

  • Whatsapp

Related posts