RUMOR BENCANA ALAM YANG MENYESATKAN

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Makro Maarif Sulaiman, S.Sos., M.A.

Dalam buku History in Three Keys (1997) karya Paul A. Cohen, ada salah satu subbab yang menarik dan menggelitik nalar dan hati saya, yakni mengenai Rumor and Rumor Panic pada halaman 146 – 173. Di subbab itu pun, saya baru memahami di bagian pengantar. Meskipun baru di bagian pengantar, tetapi mendorong nurani dan rasio saya untuk mendalaminya lebih lanjut.

Read More

Bagian pengantar itu menyajikan perbedaan tiga konsep yang selama ini sering kali menyebabkan ambiguitas dan kebingungan dalam kaidah berbahasa baik secara rasio, tuturan, dan tulisan. Tiga konsep yang dimaksud ialah rumor, gosip, dan kepercayaan.

Saya ingin menyajikan bagaimana ketiga konsep tersebut bekerja dalam sebuah
wacana dan realitas. Ini dikaitkan dengan sebuah berita yang membuat heboh jagad masyarakat Indonesia dan membuat diri menjadi kalut, termasuk saya pribadi. Berita ini sering kali membuat kacau nalar berpikir bila tidak memiliki kemampuan menguliti informasi.

Belum lama ini, tersiar kabar bahwa tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengeluarkan sebuah hasil penelitian berbasis permodelan data dan analisis bencana mengenai potensi gempa dan tsunami di kawasan Pantai Selatan Jawa.
Hasil penelitian tersebut diapresiasi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Di salah satu berita online, di bagian judul tertulis “Tsunami Besar di Pantai Selatan Jawa”. Ada pula judul berita online lain dengan nama “Geger Ramalan Tsunami Jawa 20 Meter, Kapan Akan Terjadi?”.

Saya cukup menyebutkan dua contoh judul saja karena menurut saya bisa merepresentasikan keseragaman penafsiran yang sesat dalam mencerna berita. Belum lama, ketika saya hendak menuju dapur untuk makan malam, terdengar sekilas obrolan Ibu dan adik perempuan saya yang ngalor ngidul membicarakan berita gempa dan tsunami di Pantai Selatan Jawa.

Dari sekilas obrolan tersebut, Ibu saya seperti memberi sebuah klaim kepada adik perempuan saya bahwa terjangan tsunami hanya akan menimpa daerah sekitar kawasan pantai. Seakan-akan Ibu saya membangun sebuah power perlawanan terhadap berita yang dianggap sebagian masyarakat menakutkan dan bikin nggak enak makan.

Lalu setelah obrolan sekilas antara Ibu dan adik perempuan saya usai, saya mencoba ingin mendapatkan klarifikasi dari adik perempuan saya terkait obrolan dengan Ibu saya. Sambil makan dan menyeruput segelas kopi panas, saya mulai bertanya ke adik perempuan saya, “Emang beritanya gimana toh tentang tsunami itu?”.

Baca Juga :  Mewujudkan Pilkada Yang Bermartabat

“Itu lho Mas, di twitter, ada berita kalau salah satu orang pinter bilang kita harus waspada antara tanggal 24, 25, 26 (September)”.

“Lha emangnya kenapa?”. Respon saya melalui pertanyaan.

“Itu lho Mas, katanya mau terjadi gempa”.

“Nah itu kan yang aku baca baru prediksi, berarti belum tentu benar-benar terjadi”. Balas saya.

“Ya coba to lihatlah twitter”. Pungkas adik saya mengakhiri pembicaraan sambil berbalik badan menuju ruang keluarga yang lain.

Saya memang seorang penggiat media sosial dan aktif di dalamnya. Saya punya
akun facebook, instagram, line, whatsApp, telegram, dan messenger. Dari akun-akun tersebut, saya lebih sering membuka facebook dan instagram. Alasannya, sajian berita dan kabar yang dimuat lebih cepat update. Sedangkan twitter hanya mengandalkan trending topic.

Karena adik perempuan saya bilang beritanya di twitter, saya lantas mengecek
berita tentang orang pintar tersebut, dan setelah saya scrolling, berita itu sudah ketimbun berita-berita lain. Disini kelihatan kalau saya kurang aktif ndekem dimarkasnya orang-orang pada ngetweet.

Saya sendiri tinggal di kawasan Bantul Selatan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kejadian gempa bumi 5.9 SR di Yogyakarta pada 14 tahun silam masih menyisakan trauma di pikiran dan memori saya. Hancurnya rumah-rumah di sekeliling tempat tinggal saya masih belum seberapa dibandingkan hancurnya hati saya melihat banyak korban berjatuhan kala itu.

Tempat tinggal saya bisa dikatakan sebagai daerah paling rawan gempa di DIY karena lebih berdekatan dengan kawasan pantai selatan yang selama ini menjadi sumber gempa. Karakteristik masyarakat di tempat tinggal saya masih terikat kuat dengan kultur agraris. Karena masih terikat dengan kultur agraris itu, maka kecenderungan bagi masyaarakat setempat lebih cenderung pasrah dan percaya mitos berkaitan dengan isu santer kebencanaan.

Dari deskripsi yang saya jelaskan tadi, ada kata-kata kunci yang dapat menjadi benang merah mengenai pembahasan tiga konsep seperti yang saya kemukakan di awal. Kata-kata kunci tersebut adalah ancaman, geger, ramalan, katanya, dan orang pinter. Diksi atau pilihan kata yang saya jumpai lewat bacaan dan percakapan itu menyiratkan akan daya responsif masyarakat terhadap wacana kebencanaan.

Baca Juga :  Humas Harus Terbuka Hadapi Krisis Pandemi

Kembali kepada upaya menguliti konsep rumor, kepercayaan, dan gosip dan bagaimana kaitannya dengan dayaresponsif masyarakat terhadap kebencanaan. Dalam History in Three Keys, rumor didefinisikan oleh Ralph L. Rosnow sebagai komunikasi publik yang disisipi oleh hipotesis khusus tentang bagaimana dunia bekerja.

Rumor memang sengaja didesain terutama oleh media dengan narasi-narasi yang membuat takut dan mencekam. Narasi seperti itu menurut saya termasuk hipotesis
khusus. Sejatinya berita mengenai potensi gempa megathrust dan tsunami tersebut sebagai hasil pengkajian tim ITB adalah untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peduli dengan mitigasi bencana. Hasil pengkajian tim ITB tersebut merupakan sebuah hipotesis umum berdasarkan standar baku keilmuan.

Mungkin penggunaan diksi ancaman dan geger tersebut dimaksudkan agar masyarakat tidak menyepelekan wacana kebencanaan dan agar membuat masyarakat menjadi waspada. Namun, narasi-narasi yang membuat khalayak publik menjadi cemas melalui diksi ancaman dan geger sudah kadung menjadi pemahaman bersama bahwa bencana alam harus ditakuti dan dihindari.

Akibatnya, rumor mengenai wacana kebencanaan dapat mengakibatkan hampir
sebagian besar masyarakat lebih percaya kepada ramalan dan orang pinter yang bisa dipercaya mengetahui kepastian datangnya bencana. Rumor memang dapat mengikis sisi rasionalitas masyarakat. Dari hal itu, BMKG dan tim peneliti berbasis ilmu pengetahuan dapat kehilangan legitimasi dan kepercayaan dari masyarakat, terlebih bila wacana kebencanaan tersebut dikaitkan dengan dekatnya kiamat.

Kuat atau tidaknya rumor tersebut sangat tergantung dengan keadaan psikologis masyarakat dan kepercayaan mengenai bencana yang sudah disepakati bersama.
Kepercayaan berarti meyakini akan terjadinya atau tidak terjadinya sesuatu berdasarkan realitas yang telah terverifikasi. Fakta bahwa di Jawa ratusan tahun sebelumnya pernah terjadi gempa dan tsunami memperkuat kepercayaan bahwa
kejadian serupa akan terulang dan hal itu yang menimbulkan kepanikan.

Parahnya, apabila itu diperkuat oleh gosip (obrolan remeh mengandalkan katanya)
sehari-hari yang membincangkan mengenai gempa. Hal itu dapat menjauhkan masyarakat dari wacana pengetahuan yang valid mengenai kegempaan. Disinilah pentingnya meningkatkan daya literasi dalam kehidupan sosial agar semakin tidak
diperbudak oleh rumor-rumor yang menyesatkan. Literasi yang meningkat dan optimal akan mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan mitigasi bencana yang lebih riil dan terukur.

Penulis Adalah Alumni Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: S1 Sosiologi UGM (20092013), S2 Sosiologi UGM (2017 – 2020).

Publiser: Imran Alwi

ALREINAMEDIA TV

Related posts